Kumpulan Cerita Pendek ‘Agama yang Pantas bagi Pohon-pohon?’ dan Kisah-kisah Pilihan, Eko Triono


Ini bukan buku religi meski saya temu di rak novel religi sepantar Asma Nadia & Habibburahman El Shirazy. Masuk dalam nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa Award 2016, membuat saya terlampaui ingin membaca dan akhirnya saya perlu menulis sedikit ulasan (atau komentar(?). Hampir sebagian cerpen di kumcer ini tidak seperti cerpen-cerpen lain yang kental naratif. Eko Triono, si penulis, sepertinya sengaja bermain-main–dalam hal ini, aku berani bilang: ber-eksperimentatif!
Cerpen ‘Ikan Kaleng’ yang pernah terbit di Harian Kompas adalah terfavorit. Selain itu ada ‘Pernikahan Tuan Mensen yang Mengejutkan’ yang benar-benar mengejutkan: mana mungkin seorang Tuan menikahi lukisannya sendiri? Ada ‘Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-pohon’ (sama seperti judul buku) yang acap menyindir kita-kita manusia ini. Favorit terakhir saya justru cerpen pertama (hlm.29-30), judulnya ‘Kebahagiaan’, yang merangsang saya untuk memikirkan tentang anak-dari-masa-depan. 

Selebihnya, Biar Tuhan yang Menetapkan

Aku pernah berdoa dan tidak dikabulkan. Orang-orang di sekitar–aku jamin–juga pernah seperti itu: kerap berdoa dan tidak kunjung dikabulkan. Setakzim apapun!

Tapi, pernah pula aku sesekali malas berdoa, hingga merentet dan berubah pola: berkali-kali aku mulai jarang berdoa. Hei! Ini gawat! Aku merasa gawat. Aku mencoba berkabar baik-baik saja waktu itu. Mencoba, dan pada akhirnya kelu juga benak ini lama tak berdoa.

Oh, boy… I don’t know why… Seharusnya aku tak terlalu banyak ceramah soal doa. 

Berapa usiaku? Lebih dari 20 tahun!

Usiamu?

Usiamu kerap kamu sisipkan doa? Selalu samakah sisipan doa itu di setiap kali usiamu bertambah?
Oh, man… Seharusnya tulisan ini jangan dibuat terlalu puitis…

Sebagai mahasiswa psikologi, nih…, aku enggan menjadi seorang penulis yang dengan gamblang menjelaskan tentang cara hidup yang positif, penuh kebermaknaan, empatetik, atau apalah itu. Aku nggak bisa, men…
Oh. Coba kembali ke topik doa.
Jadi, besok pagi, doa yang bagaimana yang harus aku lantunkan?

Semuanya? Perkara hidup dan mati?

Atau, sebagian sahaja? Perkara hidup atau perkara mati?

Kalau soal karir, itu termasuk perkara hidup, kan? Soal jodoh, soal jodoh? Juga sama seperti soal karir? 

Lalu, perkara mati terwakili pada soal-soal apa saja?
Oh, dear……

Tidak bisakah aku akhiri semua paragraf ini dengan damai?

Ya enggaklah! Ini serius! Soal masa depan. (Masa depan yang mana?)
Masa depan?

Masa lalu?

Bukan keduanya? Alias masa saat ini?
Coba, ya, yuk kita coba. 

Kita haturkan doa melalui jalur lisan. Atau acapkali, bolehlah kita goreskan melalui jalur penulisan. 
Lalu… Setelah itu… Atau… Selebihnya… Biar Tuhan yang Menetapkan…

Cerpen ‘Sayang, Aku Pasti Pulang’

wa2ncast.deviantart.com

Nyaris setengah tahun, sy tidak menulis cerita pendek. Kali ini, izinkan sy membagikan tautan cerpen pertama sy di tahun 2017.

Menciptakan kisah drama dengan muatan filosofis itu susah-susah mudah. Seperti membuat naskah (Lelaran, umpama) atau lirik (Rindu Selalu Ada Dalam Daftar (OST. Lelaran), umpama), butuh beberapa kali ketik-hapus-ketik agar sampai layak disebut sebagai karya: yang nyastra, yang artsy, dan yang tetap menyenangkan.

Lalu, apa jadinya kalo cerpen beginian justru dinaskahkan dan disinemakan?

http://www.qureta.com/post/sayang-aku-pasti-pulang

Ibu Mendulang Anak Berlari, Karya Cyntha Hariadi

Ibu, anak, perempuan, dan parenting merupakan empat bahasan besar dalam kumpulan puisi ini, bagi saya. Tiga puisi terfavorit di buku ini di antaranya berjudul ‘Payudara’, ‘Surga’, dan ‘Ibu Mendulang Anak Berlari’.

Satu penggalan puisi yang berjudul sama dengan judul buku ini ada yang cukup menyindir semua orang.

‘Sampai tua ibu mendulang

sampai ingatan hilang baru mengerti

bahwa anaknya sudah pergi sejak bisa makan sendiri.’

Kambing & Hujan, Mahfud Ikhwan

Arsip pribadi

Ini bukan novel sejarah yang menyeterukan NU-Muhammadiyah atau novel religi mengenai beda fiqih atau beda cara ibadah lainnya, melainkan benar-benar tentang roman, sebagaimana yang tertera di sampul buku.

Pada akhir roman ini, kedua desa dengan masing-masing afiliasinya harus dan perlu berdamai. Konflik batin disudahi. Semuanya melekas dengan cinta. Dengan pernikahan.

Film TURAH (2016): Karena Berarti Sisa, Maka Menyisakan Banyak Kesan

img_0231

Ada banyak kesan dan pelajaran yang saya dapat dari film Turah (2016) karya Wicaksono Wisnu Legowo, di antaranya:

  1. Hidup ini sesungguhnya harus sungguh-sungguh
  2. Jangan mudah iri
  3. Jangan mudah dendam
  4. Jangan mudah terhasut
  5. Protes dengan kasar dan terlalu resah hanya akan membelitkan masalah, bersabar dan bersungguh-sungguh dalam bekerja
  6. Meski Anda kuliah hingga ke perguruan tinggi, nyatanya Anda tetap saja bisa bermodal ngapusi orang lain atau orang tua atau siapa saja yang Anda nilai itu akan menguntungkan
  7. Kemiskinan itu meresahkan
  8. Keresahan itu berdampak pada dendam, dan dendam bisa berdampak pada pembunuhan
  9. Kasih dan sayang kepada siapa saja

Masih banyak lagi kesan dan pelajaran yang saya dapat, tapi apa daya, sekian saja yang saya haturkan. Nomor 1, 2, 3, 4, dan 9 itu saya dapat dari tokoh Turah dan istri Turah. Nomor 5, 7, dan 8 saya peroleh dari si Jadag. Sedangkan saya mendapat pelajaran nomor 6 itu dari si Pakel, tokoh yang merupakan sebab berontaknya Jadag karena Pakel menjadi tangan kanan Juragan Darso.

Film Turah yang saya tonton pada perhelatan JAFF (Jogja-NETPAC Asian Film Festival) 2016 di hari Selasa malam tanggal 29 Desember 2016 ini mendapatkan satu penghargaan oleh Network for Promotion of Asian Cinema (NETPAC) dan satu penghargaan oleh komunitas film dari beberapa kota di Indonesia. Turah adalah satu karya yang memberikan kontribusi sinematik, dinilai penting bagi perkembangan sinema di Benua Asia.

Berdasarkan informasi oleh Hanung Bramantyo di akun Instagram-nya, sutradara Turah merupakan mantan clapper film Ayat-ayat Cinta. Tahun 2016, sutradara Turah sudah tidak jadi clapper, tapi jadi pemenang.

img_0249

Tanya-jawab film TURAH paska-penayangan: ada sutradara dan beberapa pemeran

img_0248

Hanung Bramantyo di sebelah kiri saya, persis